Postingan

Menampilkan postingan dengan label #ceritanya sih puisi

Lalu apa? Lalu bagaimana?

Gambar
Terikat. Disekap. Tak bisa bergerak Kemudian berlari, melepas tambang yang mengikat dengan gigi Hingga berdarah-darah Lalu apa? Lalu bagaimana? Berlari tanpa arah Kadang menyesal Kenapa harus lari? Kenapa tidak diam saja? Biar diikat dan disekap Tetapi tidak akan kebingungan seperti ini Lalu apa? Lalu bagaimana? Sudah terlanjur berdarah dan berlari Hanya akan merobek harga diri jika kembali Karena otak bodoh yang egois Beginilah jadinya Pergi tanpa berfikir Lalu apa? Lalu bagaimana? Sudahlah Sudah terlanjur pergi Terus saja berjalan Meski tanpa alas Menginjak kerikil, pasir panas, dan pecahan kaca Hadapi saja. Tantang mereka Kau sudah memilih jalan ini Lalu apa? Lalu bagaimana? Buktikan Karena kau sudah berlari Buktikan bahwa itu tidak sia-sia Kau akan kembali membawa diri dengan senyum mengembang di wajahmu Memandang yakin pada dirimu Buktikan dirimu mampu berdiri sendiri Melewati jalan itu meski penuh duri 

Lihat kesini!

Gambar
Entah siapa yang kurindu Entah siapa yang sedang kunanti saat ini Di tengah hujan gerimis yang bertahun tak berhenti Dan awan kelabu yang seakan memberi kabar bahwa seseorang yang sedang ku tunggu  tidak akan pernah datang  Aku sendirian Tidak sudi kah kau sekadar melihat kesini?  ke arahku?  Tidak kah kau punya sedikit rasa kasihan saja kepadaku? Aku tidak peduli terlihat menyedihkan karena kau kasihani Tapi setidaknya kau melihatku Menganggapku ada.  Disini Aku benci sendirian Aku benci kesepian  karena aku merasa aku begitu payah Jadi tolong,  Lihatlah kemari Iya. Kearahku Kasihani aku karena aku membutuhkanmu 

Negatif

Gambar
Garis pendek yang mengambang Sudah mendarah daging disini Membuat semua berfikir sama dimatanya Buruk Apapun  yang dia lihat dirasanya buruk Padahal belum tentu Semua negatif, katanya Hidupnya seakan diburu Padahal mereka diam Ya karena negatif Dalam darahnya Terpatri garis pendek yang mengambang Dan sulit untuk dihilangkan

Aku lelah

Gambar
Aku akan hilang Dasar kau pengecut Aku memang pengecut Apa kau sudah gila? Belum. Dan tidak akan menjadi gila Dimana kau taruh otakmu hah? Disini, di kepalaku. Terlindungi dari sinar matahari yang bisa membakar kulitmu Kau seperti anak teka, kau tau? Aku tidak peduli Sampai kapan kau hanya berdiam di zona yang kau fikir aman itu? Selamanya Dasar bodoh. Kapan kau akan menjadi dewasa? Ini hidupku. Aku yang menentukan kemana akan berjalan Kau sudah terlalu lama berjalan lurus, terlalu mainstream Aku tahu, yang penting aku aman Belum tentu Aku tidak peduli! Kau memang keras kepala, egois Apa? Aku egois? Apa kau tahu aku sudah terlalu sering mengorbankan perasaanku sendiri untuk menjaga perasaan orang lain? Kau tahu seberapa tersiksanya aku ketika aku harus berpura-pura padahal aku begitu marah? Sudah berkali-kali aku melakukan hal itu. Apa kau masih mau berkata aku ini egois? Berhentilah bersikap kekanak-kanakan Aku tidak bersikap begitu Lalu k...

Penyesalan di tengah semak belukar

Gambar
Penyesalan perlahan muncul kedasar hati Apa? Apa yang disesali? Tidak perlu ada yang disesali Kau memang seharusnya tidak disini Tapi berjalan di jalur yang sudah ada Hanya saja kau terlanjur tergelincir ke dalam lumpur penghisap Diam. Jangan bergerak Agar kau bisa keluar dari sana Jangan menangis dan menyesal  meratapi dirimu sendiri di tengah semak belukar di hutan ini Tidak perlu menyesal Bertemu hewan liar dan terhisap lumpur Tidak perlu menyesal karena ini takdir kau sudah terlanjur memilih meskipun hutan memang gelap, banyak semak belukar, dan hewan liar Jangan lari! Karena kau akan semakin tersesat Percayalah, didalam keliaran hutan ini Banyak bunga langka yang indah akan kau temui Kau tidak akan menyesal Teruslah berjalan, jangan lihat ke belakang dan di ujung sana, nantinya kau akan keluar dari hutan ini merubah pandangan dunia akan gelapnya hutan

Helai daun dan dirimu

Gambar
Helai daun yang terlihat menyatu dalam pohon Selalu kau kagumi Karena indah, dan memberi kehidupan Hingga membuat senyummu mengembang Tapi sebenarnya, helai itu ia sendiri tidak menyatu seperti yang kau lihat Disaat kulitnya menguning Disaat tangannya sudah tak kuat berpaut dengan kehidupan dan keindahan Ia menyerah tak ada satupun yang menariknya kembali Helai daun memasrahkan dirinya Turun dan hempas di tanah Ia kini sendiri Dan tak ada lagi yang sekadar melihatnya dan kau? Kemana senyummu? Bahkan kau tidak menggerakan bola mata indahmu Sedikitpun ke arah helai daun Helai kini layu, hempas, dan sendirian malah terinjak Diombang-ambing desir angin Pergi tanpa tujuan Dan matamu hanya membiarkan helai daun Pergi bersama angin Sendirian